Jumat, 06 April 2012

DENNY INDRAYANA

Denny Indrayana Akui Ada Pemukulan
Icha Rastika | A. Wisnubrata | Selasa, 3 April 2012 | 14:41 WIB
Dibaca: 28125
|
Share:
TRIBUNNEWS/DANY PERMANAWakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana.
JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana, mengakui adanya pemukulan terhadap petugas Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Pekanbaru, Riau, Darso Sihombing. Menurut Denny, pemukulan itu dilakukan oleh seorang petugas saat Wamenkum HAM melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke Lapas bersama sejumlah anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Senin (2/4/2012).
Tidak benar, berita yang mengatakan saya memukuli, menampar petugas Lapas Pekanbaru. Masak tampang kayak saya itu tampang mukul nampar sih?
"Di situlah, memang ada petugas memukul," kata Denny dalam jumpa pers di kantor Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Selasa (3/4/2012).
Namun, dia tidak menjelaskan detail siapa petugas yang melakukan pemukulan itu. Denny membantah kabar yang menyebut dirinya menampar petugas lapas tersebut "Tidak benar, berita yang mengatakan saya memukuli, menampar petugas Lapas Pekanbaru. Masak tampang kayak saya itu tampang mukul nampar sih?" kata Denny.
Dia menjelaskan, kejadian itu bermula saat rombongan Wamenkum HAM bersama sejumlah anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) mendatangi Lapas Pekanbaru, Senin dini hari. Kedatangan rombongan, kata Denny, untuk menciduk tiga tahanan yang diduga melakukan transaksi perdagangan narkotika dari dalam sel.
Sesampainya rombongan sekitar pukul 02.00 WIB pagi, Denny mendapati pagar lapas yang dikunci gembok. Dia bersama rombongan kemudian melompati pagar tersebut. Lompat pagar dilakukan dengan alasan menjaga agar sidak tidak bocor.
"Saya lompat pagar, kenapa? Sidak semacam ini tidak boleh bocor, tidak boleh kehilangan waktu," ujar mantan staf khusus presiden itu. Jika bocor, katanya, dikhawatirkan narapidana yang menjadi target operasi akan menghilangkan barang bukti.
"Banyak yang masih transaksi di Lapas karena mereka koordinasi dengan petugas," lanjut Denny. Para narapidana itu pun, katanya, mungkin saja berkoordinasi dengan petugas lapas.
Setelah melompat pagar, Denny dan rombongan meminta kepada petugas penjaga pintu untuk membukakan mereka. Namun, kata Denny, petugas itu tidak kunjung membukakan pintu. Petugas yang bernama Darso Sihombing itu, katanya, hanya melihat ke luar dari lubang pintu kemudian menutup kembali lubang tanpa langsung membukakan pintu.
Menurut Denny, petugas itu terlalu lama membukakan pintu. Dia mencurigai si petugas berkoordinasi terlebih dahulu. "Saya di pintu prosesnya lama sekali, lebih dari lima menit. Ini petugas sudah mulai gelisah, 1 menit saja kurang, bisa gagal," ujarnya.
Denny pun menegur petugas tersebut. "Kenapa lama sekali?" ucapnya menirukan teguran dia saat itu. Sang petugas kemudian membukakan pintu dan beralasan takut kepada petugas BNN. "Dia (petugas itu) nunjuk BNN," ucap Denny.
Saat itulah, lanjutnya, petugas itu dipukul. Denny yang melihat kejadian tersebut mengaku justru menahan agar sang petugas itu tidak dipukuli. Seusai sidak yang dilakukan hingga pukul 07.00 itu, Denny kemudian meminta maaf kepada petugas.
"Saya memang bicara dengan mereka, besarkan hati petugas. Minta maaf, tapi lain kali kalau ada begini, langsung dibuka. Kalau meminta maaf karena saya memukul? Itu tidak betul," ujarnya.

Tidak ada komentar: