Jumat, 11 Juli 2014

Palestina Milik Siapa ? Israel atau Palestina ?


Ad
Palestina Milik Siapa ? Israel atau Palestina ?
Konflik Palestina Israel yang terjadi selama ini tidak lepas dari pertanyaan “Palestina Milik Siapa”. Baik Israel maupun Palestina mengklaim tanah ini hak milik mereka. Sejarah peperangan Israel Palestina dari masa ke masa yang mehilangkan ribuan nyawa tak berdosa tak dapat dihindari lagi. Baik Israel maupun Palestina mempunyai argumen yang kuat bagi mereka untuk menempati tanah Palestina ini.
Palestina Milik Siapa ? Israel atau Palestina ?
Memang tidak dapat dipungkiri, asal usul terjadinya konflik antara Palestina dan Israel ini tidak lepas dari keserakahan Israel yang berusaha memperluas daerah kekuasaannya. Tapi ada suatu pembahasan yang menarik yang kutemukan di sini. Yaitu artikel “Palestina Milik Siapa” yang dilihat dari sudut pandang pembagian harta waris mulai zaman Nabi.

Palestina Milik Siapa ? Israel atau Palestina ?

Konflik Palestina-Israel terus saja berlangsung entah sampai kapan berakhir. Sekarang orang Israel mengklaim sebagai tanah milik mereka sejak 400 tahun sebelum Masehi! Benarkah? Kenapa baru tahun 1897 dipertanyakan kembali? Siapa sebenarnya bangsa Israel itu? Mari kita lihat kembali sejarahnya. Orang-orang Israel adalah anak keturunan nabi Yakub as anak nabi Ishak cucu nabi Ibrahim. Nabi Yakub AS tinggal di Nablus daerah Kan’an Palestina. Anak keturunan nabi Yakub ada 12 suku yang tersebut 12 suku keturunan Israel. Jumlahnya kurang dari seratus orang dan hidup sampai 500 tahun lebih. Salah satu keturunan Israel ini adalah nabi Yusuf Bendahara Negri Mesir. Nabi Yusuf as berusaha mengumpulkan kembali keturuan nabi Yakub ini yang sudah terpencar-pencar di sepanjang pantai laut tengah sampai daerah Irak bagian utara kembali ke Mesir. Selain nabi Yusuf yang juga keturunan Israel adalah nabi Harun dan nabi Musa, nabi Daud, nabi Sulaiman.
Sehingga pada zaman Nabi Musa yang juga keturunan Israel, lebih dari 1600 laki-laki keturunan 12 suku Israel berhasil lolos dari kejaran Fir’aun (Raja Mesir bergelar Fir’aun yang sebenarnya bernama Bernevtah atau Ramses II). Karena sebelum itu mereka berkumpul di Mesir hasil usaha nabi Yusuf as. Mereka berdiam dan berkembang di Mesir sampai Raja Fir’aun yang ke 32 berkuasa yang memusuhinya berkat usaha nabi Musa yang keturunan Israil juga mereka berhasil lolos ke daerah Madyan, dekat Baitul Maqdis dan Padang pasir Tih.
Kira-kira sebelum tahun 500 SM Orang-orang Yahudi berkembang dekat Baitul Maqdis. Berdasarkan wahyu yang diterima nabi Musa bahwa diperintahkan Bani Israil untuk masuk ke kampung bernama Baitul Maqdis (QS: 2:58-59). Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah Baitul Maqdis adalah yang disebut orang Yahudi dengan Yerusalem lama, atau Hebron dalam keadaan menang.)1. Tetapi mereka tidak mau masuk seperti yang diperintahkan Allah SWT kepadanya. Karena keingkarannya kepada perintah Allah SWT maka jadilah mereka tersesat di padang Tih selama empat puluh tahun. Sampai datang generasi baru dibawah Yusha’ bin Nun membebaskan mereka dan memasuki kota tersebut.)2 Tetapi orang-orang zalim menukar perintah Allah swt kata Hiththah maksudnya masuk dengan menunduk atau merendahkan diri kepada Allah SWT sebagai tanda tobat dan mohon ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang lalu. Kata Hiththah mereka plesetkan menjadi Hinthah artinya mohon gandum. Bahkan sangkin menghinanya dalam Hadits yang dikutip di dalam catatan kaki Tafsir Zhilalil Qur’an tersebut penerjemah menambahkan: mereka memasuki pintu kota sambil merayap diatas pantatnya seraya berkata “Habbah fi syara’i” Kami minta biji-bijian gandum.”)3
Karena sifat orang yahudi yang tengkar ini banyak orang yang tidak suka, Roger Garaudy juga menyatakan bahwa memang benar sifat orang Yahudi (Israel) yang tidak patuh terhadap perintah nabi-nabinya, sehingga ia mengatakan dengan mengutip Bernard Lazare:
“… Orang-orang Yahudi “melindungi kembali diri mereka sendiri di balik pagar yang telah didirikan sekitar Taurat serta tulisan-tulisan yang pertama, kemudian oleh orang-orang Farisi/munafik serta kaum Talmudis, pada penerus Ezra, para penyimpang yang telah menyeleweng dari ajaran-ajaran nabi Musa as yang masih primitif, serta musuh-musuh para Nabi dan Rasul. Semua tindakan yang mereka lakukan itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Nabi Musa AS yang sebenarnya, yang dimurnikan dan diperluas oleh isaiah, jeremiah dan Ezekiel, serta selanjutnya diperluas dan digeneralisasikan oleh orang-orang Yudeo-Hellinis.”)4
dan Allah swt pun menurunkan azab padanya berupa penghancuran masyarakatnya mereka kembali terusir dari Baitul Maqdis dan terpencar-pencar, karena Baitul Maqdis dikuasai oleh Raja Jalut (Goliath), Ketika itu Allah mengirim pasukan Jalut yang perkasa, kecuali mereka yang selamat dibawah pimpinan raja Thalut dan nabi Daud sebagai raja orang Yahudi ketika itu. Daud memimpin Bani Israel setelah mengalahkan jalut (Kisah selengkapnya ada dalam QS: 2:246-249). Tetapi mereka tetap tidak masuk ke Baitul Maqdis karena kehendak Allah swt. Mereka diam dan berkembang disebelah baitul Maqdis yaitu yang disebut Masyaaruts-Tsani. Masyaaruts Tsani bukan wilayah Palestina. Tetapi daerah dekat antara Syria dengan Irak Utara sekarang.
Kemudian nabi Ilyas AS adalah anak nabi Harun as mengajak Bani Israil untuk patuh kepada Allah sesuai dengan ajaran Taurat dan Zabur. Tetapi tiada yang mengikuti kecuali sedikit selainnya hanyalah kedurhakaan saja. Sampai daerah itu dikuasai oleh Nebucadnesar raja Chaldea. Chaldea adalah kerajaan yang berada diwilayah Irak Utara kemudian berkembang luas sampai ke tanah Palestina. Bani Israil kembali terpencar sampai ke daerah Mesoppotamia Utara.
“Orang-orang Chaldea menjadi penguasa di kawasan itu. Sedangkan penguasa dan raja terbesar dari mereka adalah Nebuchadnessar yang mampu menaklukkan negri Syam dan menghancurkan Al-Qud. Dia membunuh orang-orang Yahudi dan merampas kerajaannya. Orang-orang Yahudi itu dihancurkan diusir dan ditawan. Sejak sa’at itulah orang-orang Yahudi Bani Israil terpencar kemana-mana dan bertebaran ke segala tempat. Sebagian dari mereka berdiam di Hijaz, Mesir dan negri yang lain.”)5
Pada tahun 504 SM Palestina ditaklukkan kerajaan Persia, yang kerajaan dipimpin oleh raja Darius Agung (522SM-485SM).orang-orang bani Israel kembali terpencar-pencar. Ketika itu Allah swt mengutus nabi Zakaiya as dan nabi Yahya as. Sampai Alexander Agung (356SM-323SM) raja Macedonia mengalahkan Persia yang menguasai daerah Persia, Mesopotamia sampai ke Mesir. Setelah Palestina dikuasai oleh Macedonia Yahudipun terpencar-pencar, ditambah lagi setelah Alexander Agung mangkat Kerajaan Macedonia terbagi dengan Romawi yang rajanya ketika itu Oktavianus Agustus (31SM-14SM). Ketika itu Romawi sedang bangkit. Setelah mengalahkan kerajaan Karthago di utara Afrika dalam sebuah pertempuran semangat Romawi bangkit untuk menaklukkan negri-negri lain termasuk Maceconia, Palestina, dan Mesir bekas taklukkan Alexander Agung.
Selanjutnya Palestina dikuasai oleh kerajaan Romawi sampai nabi Isa as diangkat orang Yahudi dan Bani Israel tidak mau mengikuti ajaran nabi Isa as kecuali beberapa orang saja yang mengikuti ajaran nabi Isa as. Bani Israil tetap dalam keadaan terpencar-pencar. Sampai kerajaan Yunani menguasai daerah tersebut dibawah kaisar Konstantin Agung (303M-337M). Agama kristen pun berkembang yang diajarkan oleh St. Paulus seorang Yahudi yang mengaku-ngaku mengikuti ajaran nabi Isa as.
Sampai Islam berkembang dan Palestina dibawah khilafah Islam Utsmaniah. Orang-orang Israel menyebar sampai ke Yunani, Romawi, Iran, Hijaz, Arab, Mesir, dan negara-negara yang ada di eropa selama lebih dari 250 tahun. Sampai meletus Perang Dunia pertama, melalui makar Yahudi dan Inggris dan sebagian negara-negara Eropa untuk menumbangkan Kekalifahan Islam dan setelah tumbang untuk menutup kemungkinan bangkitnya kekalifahan Islam kembali maka, akhirnya terbentuklah negara Israel untuk mengacaukan situasi Timur Tengah.
Terbentuknya Negara Yahudi (Israel).
Sejarah terbentuknya negara Israel, sebenarnya tidak terlepas dari problematik negara-negara yang didiami oleh orang Yahudi yang mempunyai karakter tidak disukai orang, sehingga timbul sifat antisemitisme di negara-negara yang didiaminya. Bernard Lazare yang telah menulis buku Antisemitisme et revolution (Maret 1895) menulis sebagai berikut:
…Dalam tulisan saya itu saya kemukakan bahwa terjadinya antisemitisme di dalam sejarah kita karena di manapun juga, sampai saat kita sekarang ini(huruf miring tersebut sesuai dengan tulisan yang terdapat pada karangan Lazare), “orang-orang Yahudi itu merupakan manusia yang tidak suka bermasyarakat”. Sekarangpun saya masih tetap berkata demikian mengenai mereka… akhirnya, pada bagian penutup buku tersebut saya menulis: “Penyebab-penyebab terjadinya antisemitisme, kalau kita perhatikan dari sifatnya, tentulah berdasarkan masalah-masalah etnik, keagamaan, politik dan ekonomi.)6
Kebencian terhadap orang Yahudi di negara-negara yang ditempatinya disebabkan tuduhan bahwa orang Yahudi penyebab terjadinya krisis Ekonomi akibat praktek rentenir yang diterapkan orang Yahudi dan Bank-bank yang sifat memeras rakyat, krisis sosial karena mereka orang-orang Yahudi melakukan praktek prostitusi di negara-negara yang didiami Yahudi di mana-mana khususnya Eropa. Dan mereka orang-orang Yahudi merasa merupakan ras yang paling baik didunia dan tidak segan-segan membunuh manusia lainnya.
Adalah Theodor Herzl (1860-1904) seorang Yahudi yang mencetuskan berdirinya negara Yahudi dalam bukunya Der Jundenstaat dan menerapkannya pada kongres Zionis pada tahun 1897.Herzl berpendapat karena terjadinya sifat antisemitisme di negara-negara Eropa terutama Jerman yang berakhir menurutnya dengan peristiwa “Dreyfus” maka ia menyimpulkan:
  1. Orang-orang Yahudi, dimanapun juga mereka berada di permukaan bumi ini, di negara manapun juga meereka bertempat tinggal akan tetap saja merupakan sebuah “bangsa” yang tunggal.
  2. Mereka selamanya dan di mana sajapun selalu menjadi korban pengejaran.
  3. Mereka sama sekali tidak dapat diasimilasikan oleh negara-negara dimana mereka telah bertempat tiddal sekian lamanya (sangkaan yang sama yang juga ada pada orang-orang antisemit serta orang-orang rasialis).7
Akibat ditariknya kesimpulan oleh Herzl tersebut maka pemecahan masalahnya menurut Herzl dan menurut orang-orang antisemit juga adalah membuat negara Yahudi baru diatas tanah kosong dunia. Maka dipilihlah Palestina agar juga mendapat dukungan orang-orang Yahudi aliran Zion (Pecinta tanah sejarah yaitu Mesir, Kan’aan dan sekitarnya)
Jadi tidak benar orang Israel mengaku sebagai tanah suci orang Israel. Karena :
  1. Ummat Israel tidak pernah tinggal lama di daerah Palestina walaupun Nabi Yakub as tinggal di Nablus daerah kan’aan tetapi keturunannya tidak lagi tinggal disana. Mereka lebih lama tinggal di Mesir ketika zaman nabi Musa as. dan daerah-daerah sekitarnya.
  2. Tidak bisa pula dikatakan bahwa Palestina sebagai tanah warisan nabi Nuh as sebagai mutlak milik orang-orang Israel, karena keturunan nabi Nuh as mencakup nabi Luth as, dan nabi Ibrahim as.
Mereka berdasarkan kitab suci mereka yaitu sejak nabi Ibrahim (Abram) as sudah membagi dua tanah Palestina dengan nabi Luth (Lot) as.
Kitab Kejadian pasal 13:Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai,ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.Maka berkatalah Abram kepada Lot: “Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. –Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. –Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah.Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom.Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN.(Kejadian 13:1-13)
Kalau memang benar berkeyakinan demikian tentunya dan seharusnya tidak seluruh tanah Palestina dijadikan milik Israel karena paling tidak setengahnya adalah milik nabi Luth (Lot) as.
Dan Pembagian Warisan yang adil adalah: Tanah Palestina dibagi dua. Setengahnya untuk keturunan nabi Luth as. dan setengahnya lagi untuk nabi Ibrahim as. serta keturunannya.
Setengah milik nabi Luth as.bagian sebelah timur Palestina.
Bagian timur adalah lembah dengan tanah yang subur. Ini adalah yang setengah yang milik nabi Luth as. adalah zona bebas yang boleh dimiliki setiap orang karena nabi Luth as. tidak ada keturunan lagi dan tanah dan negri miliknya sudah ditenggelamkan oleh Allah SWT karena keingkaran dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat dalam bentuk bencana alam gunung meletus. Jadi setengah Palestina bagian timur hak semua orang adalah hak penduduk setempat dan setiap orang bebas memilikinya.
Setengah milik nabi Ibrahim as. bagian sebelah barat Palestina.
Daerah bagian barat adalah tanah padang gersang.
Setengah milik nabi Ibrahim dibagi dua karena keturunan nabi Ibrahim AS ada dua dari dua Istrinya yaitu Ismail as dan Ishak AS.
Karena Bani Israil adalah keturunan nabi Yakub AS. Dan nabi Yakub AS adalah anak nabi Ishak AS. Maka jatah bani Israil hanya seperempat wilayah Palestina dan seperempatnya lagi adalah untuk keturunan nabi Ismail AS. orang-orang Arab yang ada di Saudi Mekah sekitarnya.

  1. Quraish Shihab, DR. Tafsir Al-Misbah, Lentera hati, Jakarta 2002, hal 205-206
  2. Sayyid Quthb, DR.Fi Zhilalil Qur’an, Gema Insani, Jakarta 2000, hal 87-88.
  3. Hadits, Imam Muslim dari Abu Hurairah Hadits no 3013 dalam catatan kaki tafsir fi zhilalil Qur’an,ibid.hal: 88
  4. Bernard Lazare yang dikutip oleh Roger GaraudyZionis, Sebuah gerakan Keagamaan & Politik, Gema Insani Press, Jakarta 1988, hal:31
  5. Ahmad ‘Usairy: Sejarah Islam (sejak zaman nabi adam sampai abad keXX) hal. 31
  6. Bernard Lazare, ibid, hal: 28.
  7. Theodor Herzl,Der Jundenstaat, dalam ibid hal: 21-22.
sumber : http://risalahrasul.wordpress.com/2009/01/17/apakah-memang-benar-palestina-untuk-israel/

Kisah & Sejarah Israel & Palestina


Kisah & Sejarah Israel & PalestinaIsrael yang dalam bahasa Ibrani  מדינת ישראל Medinat Yisra‘el, dan dalam bahasa Arab دولة إسرائيل Dawlat Isrā’īl merupakan sebuah negara di Timur Tengah yang dikelilingi Laut Tengah, Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan gurun pasir Sinai. Israel juga dikelilingi dua daerah Otoritas Nasional Palestina, Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Israel merupakan satu-satunya negara Yahudi di dunia dengan penduduk sekitar 7,28 juta jiwa.Selain Yahudi, terdapat juga beberapa kelompok etnis minoritas seperti etnis Arab yang berkewarganegaraan Israel. Di Israel juga terdapat beberapa agama lain seperti Muslim, Kristen, Druze, Samaria, dan lain-lain.

Awal Sejarah Israel

Kisah & Sejarah Israel & PalestinaMenurut kitab Taurat, Tanah Israel dijanjikan kepada tiga Patriark Yahudi oleh Tuhan sebagai tanah air Yahudi. Sekitar abad ke-11 SM, beberapa kerajaan dan negara Israel didirikan disekitar Tanah Israel.
Antara periode Kerajaan-kerajaan Israel dan penaklukan Muslim abad ke-7, Tanah Israel jatuh di bawah pemerintahan Asiria, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Sassania, dan Bizantium.
Keberadaan orang Yahudi di wilayah tersebut berkurang drastis setelah kegagalan Perang Bar Kokhba melawan Kekaisaran Romawi pada tahun 132, menyebabkan pengusiran besar-besaran Yahudi.
Pada tahun 628/9, Kaisar Bizantium Heraklius memerintahkan pembantaian dan pengusiran orang-orang Yahudi, mengakibatkan populasi Yahudi menurun lebih jauh lagi.
Tanah Israel direbut dari Kekaisaran Bizantium sekitar tahun 636 oleh penakluk muslim. Selama lebih dari enam abad, kontrol wilayah tersebut berada di bawah kontrol Umayyah, Abbasiyah, dan Tentara Salib sebelum jatuh di bawah Kesulatanan Mameluk pada tahun 1260.
Pada tahun 1516, Tanah Israel menjadi bagian dari Kesultanan Utsmaniyah, yang memerintah wilayah tersebut sampai pada abad ke-20.

Zionisme dan Mandat Britania

Pengusiran besar-besaran Yahudi atau yang biasa disebut Diaspora Yahudi, menyebabkan tersebarnya Yahudi ke berbagai negara. Pada permulaan abad ke-12, penindasan Yahudi oleh Katolik mendorong perpindahan orang-orang Yahudi Eropa kembali ke Tanah Suci. Dan perpindahan itu meningkatkan jumlah populasi Yahudi setelah pengusiran orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492.
Selama abad ke-16, komunitas-komunitas besar Yahudi kebanyakan berpusat pada Empat Kota Suci Yahudi, yaitu Yerusalem, Hebron, Tiberias, dan Safed.
Pada pertengahan kedua abad ke-18, keseluruhan komunitas Hasidut yang berasal dari Eropa Timur telah berpindah ke Tanah Suci.
Imigrasi dalam skala besar, atau dikenal sebagai Aliyah Pertama (עלייה), di mulai pada tahun 1881, yaitu pada saat orang-orang Yahudi melarikan diri dari pogrom di Eropa Timur.
Pada tahun 1896, Theodor Herzl menerbitkan buku Der Judenstaat (Negara Yahudi), dan memaparkan visinya tentang negara masa depan Yahudi, Tahun berikutnya ia kemudian mengetuai Kongres Zionis Dunia pertama.
Aliyah Kedua (1904–1914) dimulai setelah terjadinya pogrom Kishinev. Sekitar 40.000 orang Yahudi kemudian berpindah ke Palestina.
Selama Perang Dunia I, Menteri Luar Negeri Britania Arthur Balfour mengeluarkan pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour, yaitu deklarasi yang mendukung pendirian negara Yahudi di tanah Palestina.
Atas permintaan Edwin Samuel Montagu dan Lord Curzon, disisipkan pula pernyataan “it being clearly understood that nothing shall be done which may prejudice the civil and religious rights of existing non-Jewish communities in Palestine, or the rights and political status enjoyed by Jews in any other country“.
Legiun Yahudi, batalion yang terdiri dari sukarelawan-sukarelawan Zionis, kemudian membantu Britania menaklukkan Palestina. Oposisi Arab terhadap rencana ini berujung pada Kerusuhan Palestina 1920 dan pembentukan organisasi Yahudi yang dikenal sebagai Haganah (Bahasa Ibrani : Pertahanan).
Pada tahun 1922, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan mandat atas Palestina kepada Britania Raya. Populasi wilayah ini pada saat itu secara dominan merupakan Arab muslim, sedangkan pada wilayah perkotaan seperti Yerusalem, secara dominan merupakan Yahudi.
Aliyah Ketiga (1919–1923) dan Aliyah Keempat (1924–1929), secara keseluruhan membawa 100.000 orang Yahudi ke Palestina. Setelah terjadinya kerusuhan Jaffa, Britania membatasi imigrasi Yahudi, dan wilayah yang ditujukan sebagai negara Yahudi dialokasikan di Transyordania.
Gerakan Nazi pada tahun 1930 menyebabkan Aliyah kelima (1929-1939) dengan masukknya seperempat juta orang Yahudi ke Palestina. Gelombang masuknya Yahudi secara besar-besaran ini menimbulkan Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939, memaksa Britania membatasi imigrasi dengan mengeluarkan Buku Putih 1939.
Sebagai reaksi atas penolakan negara-negara di dunia yang menolak menerima pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Holocaust, dibentuklah gerakan bawah tanah yang dikenal sebagai Aliyah Bet yang bertujuan untuk membawa orang-orang Yahudi ke Palestina.
Pada akhir Perang Dunia II, jumlah populasi orang Yahudi telah mencapai 33% populasi Palestina, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 11% pada tahun 1922.

Kemerdekaan Israel

Kisah & Sejarah Israel & PalestinaSetelah 1945, Britania Raya menjadi terlibat dalam konflik kekerasan dengan Yahudi. Pada tahun 1947, pemerintah Britania menarik diri dari Mandat Palestina, menyatakan bahwa Britania tidak dapat mencapai solusi yang diterima baik oleh orang Arab maupun Yahudi.
Badan PBB yang baru saja dibentuk kemudian menyetujui Rencana Pembagian PBB (Resolusi Majelis Umum PBB 18) pada 29 November 1947. Rencana pembagian ini membagi Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab, dan satu negara Yahudi. Yerusalem ditujukan sebagai kota Internasional – corpus separatum – yang diadministrasi oleh PBB untuk menghindari konflik status kota tersebut.
Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Pada 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendeklarasikan pemogokan selama 3 hari, dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi.
Perang saudara dimulai ketika kaum Yahudi yang mula-mulanya bersifat defensif perlahan-lahan menjadi ofensif. Ekonomi warga Arab-Palestina runtuh dan sekitar 250.000 warga Arab-Palestina diusir ataupun melarikan diri.
Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum akhir Mandat Britania, Agensi Yahudi memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut sebagai “Israel“. Sehari kemudian, gabungan lima negara Arab – Mesir, Suriah, Yordania, Lebanon dan Irak –menyerang Israel, menimbulkan Perang Arab-Israel 1948. Maroko, Sudan, Yemen dan Arab Saudi juga membantu mengirimkan pasukan.
Setelah satu tahun pertempuran, genjatan senjata dideklarasikan dan batas wilayah sementara yang dikenal sebagai Garis Hijau ditentukan. Yordania kemudian menganeksasi wilayah yang dikenal sebagai Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sedangkan Mesir mengontrol Jalur Gaza. Israel kemudian diterima sebagai anggota PBB pada tanggal 11 Mei 1949. Selama konflik ini, sekitar 711.000 orang Arab Palestina (80% populasi Arab) mengungsi keluar Palestina.
Pada masa-masa awal kemerdekannya, gerakan Zionisme buruh yang dipimpin oleh Perdana Menteri David Ben-Gurion mendominasi politik Israel. Tahun-tahun ini ditandai dengan imigrasi massal para korban yang selamat dari Holocaust dan orang-orang Yahudi yang diusir dari tanah Arab.
Populasi Israel meningkat dari 800.000 menjadi 2.000.000 dalam jangka waktu sepuluh tahun antara 1948 sampai dengan 1958. Kebanyakan pengungsi tersebut ditempatkan di perkemahan-perkemahan yang dikenal sebagai ma’abarot. Sampai tahun 1952, 200.000 imigran bertempat tingal di kota kemah ini.
Selama tahun 1950-an, Israel terus menerus diserang oleh militan Palestina yang kebanyakan berasal dari Jalur Gaza yang diduduki oleh Mesir.
Pada tahun 1956, Israel bergabung ke dalam sebuah aliansi rahasiaBritania Raya bersama dengan dan Perancis, yang betujuan untuk merebut kembali Terusan Suez yang sebelumnya telah dinasionalisasi oleh Mesir. Walaupun berhasil merebut Semenanjung Sinai, Israel dipaksa untuk mundur atas tekanan dari Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai ganti atas jaminan hak pelayaran Israel di Laut Merah dan Terusan Suez.
Kisah & Sejarah Israel & PalestinaPada tahun 1967, Mesir, Suriah, dan Yordania menutup perbatasannya dengan Israel dan mengusir pasukan perdamaian PBB keluar dari wilayah tersebut serta memblokade akses Israel terhadap Laut Merah.
Israel kemudian melancarkan serangan terhadap pangkalan angkatan udara Mesir karena takut akan terjadinya invasi oleh Mesir. Hal ini kemudian berujung pada Perang Enam Hari yang kemudian dimenangkan oleh Israel. Pada perang ini, Israel berhasil merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.
Garis Hijau menjadi penanda batas antara wilayah administrasi Israel dengan Wilayah pendudukan Israel. Batas wilayah Yerusalem juga diperluas dengan memasukkan wilayah Yerusalem Timur. Sebuah undang-undang yang mengesahkan pemasukan wilayah ini kemudian ditetapkan. Hal ini kemudian berujung pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 478 yang menyatakan bahwa penetapan ini tidak sah dan melanggar hukum internasional.
Kisah & Sejarah Israel & PalestinaKegagalan negara-negara Arab pada perang tahun 1967 kemudian menyebabkan tumbuhnya gerakan kemerdekaan Palestina oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, beberapa kelompok militer Palestina melancarkan berbagai gelombang serangan terhadap warga-warga Israel di seluruh dunia, termasuk pula pembunuhan atlet-atlet Israel pada Olimpiade München 1972. Israel membalas aksi tersebut dengan melancarkan Operasi Wrath of God (Kemarahan Tuhan). Pada operasi ini, orang-orang yang bertanggung jawab terhadap peristiwa München ini dilacak dan dibunuh.
Pada hari Yom Kippur 6 Oktober 1973 yang merupakan hari suci Yahudi, pasukan Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak terhadap Israel. Perang tersebut berakhir pada tanggal 26 Oktober dengan Israel berhasil memukul balik pasukan Mesir dan Suriah. Walaupun demikian perang ini dianggap sebagai kekalahan Israel.
Pemilihan Knesset 1977 menandai terjadinya titik balik dalam sejarah perpolitikan Israel. Pada pemilihan ini, Menachem Begin yang berasal dari partai Likud mengambil alih kontrol pemerintahan dari Partai Buruh Israel. Pada tahun itu pula, Presiden Mesir Anwar El Sadat melakukan kunjungan ke Israel dan mengucapkan pidato di depan Knesset. Aksi ini dilihat sebagai pengakuan kedaulatan Israel yang pertama oleh negara Arab.
Dua tahun kemudian, Sadat dan Menachem Begin menandatangani Persetujuan Camp David dan Perjanjian Damai Israel-Mesir. Israel menarik mundur pasukannya dari semenanjung Sinai dan setuju untuk bernegosiasi membahas otonomi warga Palestina yang berada di luar Garis Hijau. Namun, rencana tersebut tidak pernah diimplementasi.
Pemerintahan Begin mendukung warga Israel untuk bermukim di Tepi Barat, mengakibatkan konflik dengan warga Palestina di daerah tersebut.
Pada tanggal 7 Juni 1981, Israel membom bardir reaktor nuklir Osirak milik Irak pada Operasi Opera. Badan intelijen Israel, Mossad, mencurigai reaktor nuklir tersebut akan digunakan Irak untuk mengembangkan senjata nuklir.
Pada tahun 1982, Israel melakukan intervensi pada Perang Saudara Lebanon untuk menghancurkan basis-basis serangan Organisasi Pembebasan Palestina di Israel Utara. Intervensi ini kemudian berkembang menjadi Perang Lebanon Pertama. Israel menarik pasukannya dari Lebanon pada tahun 1986. Intifada Pertama yang merupakan perlawanan rakyat Palestina terhadap pemerintahan Israel terjadi pada tahun 1987, menyebabkan terjadinya kekerasan di daerah pendudukan Israel.
Selama Perang Teluk 1991, PLO dan kebanyakan warga Palestina mendukung Saddam Hussein dan Irak dalam melancarkan serangan misil terhadap Israel.
Pada tahun 1992, Yitzhak Rabin menjadi Perdana Menteri Israel setelah memangkan pemilihan umum legislatif Israel 1992. Yitzhak Rabin dan partainya mendukung adanya kompromi dengan tetangga-tetangga Israel.
Tahun 1993, Shimon Peres dan Mahmoud Abbas, sebagai wakil Israel dan PLO, menandatangani Persetujuan Oslo. Persetujuan ini memberikan Otoritas Nasional Palestina hak untuk memerintah di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Selain itu, juga dinyatakan pula pengakuan hak Israel untuk berdiri dan menyerukan berakhirnya terorisme.
Pada tahun 1994, Perjanjian Damai Israel-Yordania ditandatangani, membuat Yordania menjadi negara Arab kedua yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
Dukungan publik Arab terhadap persetujuan ini menurun setelah terjadinya peristiwa pembantaian umat muslim yang sedang bersembahyang di Masjid Ibrahimi oleh sekelompok ekstremis gerakan Kach. Selain itu, pemukiman warga Israel di daerah pendudukan yang masih berlanjut, serta menurunnya kondisi ekonomi Palestina juga menurunkan dukungan publik Arab.
Dukungan publik Israel terhadap persetujuan ini juga berkurang setelah terjadinya rentetan kasus bom bunuh diri yang dilakukan oleh hamas. Pembunuhan Yitzhak Rabin yang dilakukan oleh esktremis Yahudi ketika ia sedang meninggalkan sebuah pawai yang mendukung perdamaian dengan Palestina mengejutkan seluruh negeri.
Pada akhir 1990-an, Israel yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu menarik mundur pasukannya dari Hebron dan menandatangai Memorandum Sungai Wye. Memorandum tersebut memberikan Otoritas Nasional Palestina kontrol yang lebih luas.
Peta perubahan wilayah Israel dan Palestina :
Kisah & Sejarah Israel & Palestina

Kamis, 10 Juli 2014

Seandainya Arab dan Israel Mau Berbagi

Dampak Penolakan Arab Terhadap Resolusi PBB 1947

13896782211044227113
Tenda-tenda para pengungsi Palestina akibat perang 1948 foto 1948.org.co.ok
Jika menelusuri dari awal sejarah berdirinya Negara Israel, ada beberapa fakta menarik dan mengejutkan diantaranya adalah penolakan bangsa Arab terhadap resolusi PBB 1947 dan penyerangan koalisi Negara Arab terhadap Israel tanggal 15 Mei 1948 hingga terjadi perang Arab - Israel (15/5/1948 - 10/3/1949). Akibat perang itu timbul masalah yang lebih rumit yaitu para pengungsi Palestina yang jumlahnya terus bertambah hingga kini.
Sebenarnya rancangan peraturan yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang pembagian wilayah Palestina itu, dibuat sedemikian rupa hingga tidak merugikan pihak Arab dan Yahudi. Sementara PBB sebagai badan internasional akan membantu menjaga perdamaiaan diwilayah Palestina sampai semuanya berjalan lancar. (Baca rancangan peraturan PBB disini).
Selain itu pembagian wilayahnya juga seimbang, walaupun Israel mendapat 55% dari wilayah Palestina, bukan berarti tidak adil tapi karena Isrel dapat gurun pasir Negev yang luas dan tidak produktif. Sementara untuk Arab, walau hanya dapat 45% tapi mereka dapat wilayah yang lebih strategis dan produktif. Khusus untuk Jerusalem, tidak diberikan pada Israel atau Arab karena Jerusalem merupakan kota suci untuk 3 agama (Yahudi, Kristen, Islam) jadi ada dibawah pengawasan Internasional.
Ketika dilakukan pemunggutan suara oleh PBB (1947), hasilnya adalah 33 negara pro resolusi, 13 menentang dan 10 Abstain. 13 negara yang kontra resolusi PBB 1947 adalah Afghanistan, India, Iran, Irak, Lebanon, Pakistan, Arab Saudi, Siria, Turki, Yaman, Yunani, Mesir dan Cuba. Karena yang setuju lebih banyak daripada yang kontra, akhirnya warga Yahudi memproklamirkan berdirinya Negara Israel 14 Mei 1948. Lihat gambar rencana pembagian wilayah untuk Israel dan Palestina dibawah ini:
1389678299830279865
Rancangan pembagian wilayah Palestina dan Israel 1947 foto israelseen.com
Hanya sehari setelah Negara Israel terbentuk, koalisi Negara Arab (Jordan, Syria, Lebanon, Arab Saudi, Irak dan Mesir) langsung menyerang Israel dari segala arah dengan maksud melenyapkan Yahudi dari Palestina. Tapi apa daya nasib berkata lain, Israel berhasil memenangkan perang itu dan akibatnya sekitar 500-750 ribu bangsa Arab Palestina terpaksa keluar dari Palestina dan hidup di beberapa kamp pengungsian di perbatasan Negara Jordan, Lebanon, Mesir dll.
Ironisnya Negara-negara Arab disekitar Palestina, tidak bersedia menyerap para pengungsi itu misalnya dengan memberi kewarganegaraan, pekerjaan, tempat tinggal sementara dll. Padahal negara-negara Arab disekitar Palestina itu sangat luas dan sebagian kaya minyak. Akhirnya para pengungsi itu menumpuk di kamp-kamp hingga berkembang biak dan beranak pinak dari sekitar 750 ribu tahun 1948 hingga sekitar 5 juta tahun 2013 lalu. (lihat data pengungsi versi UNRWA - PBB disini).
Setelah perang Arab-Israel selesai tahun 1949, PBB mengeluarkan lagi resolusi tentang hak untuk kembali para pengungsi yang tertuang dalam paragraph 11 tanggal 11 Desember 1949, isinya:
Resolved that Refugees wishing return to their homes and live in peace with their neighbors should be permitted to do so at the earliest practicable date, and that compensation should be paid for the property of those choosing not to return and for the loss or damage to property which, under the principles of international law or in equity, should made by the governments or authorities responsible. (*Terjemahan bebas: para pengungsi yang ingin kembali kekampung asalnya harus diizinkan dan bagi yang tak ingin kembali, harus diberi kompensasi atas segala kerugian akibat kehilangan dan kerusakan sesuai hukum internasional dan wewenang pemerintahan setempat).
Tapi sekali lagi koalisi Negara Arab menolak resolusi ini karena mereka masih bersikeras menolak resolusi PBB 1947 tentang pembagian wilayah antara Arab dan Israel. Setelah beberapa bulan kemudian ketika situasi semakin rumit baru Arab menerima resolusi ini. Setelah Arab menerima, giliran Israel yang menolak hingga perundingan sangat alot. Israel pernah menawarkan menerima 100 ribu pengungsi tapi ditempatkan disebar sesuai kehendak Israel. Tapi pihak Arab menolak hingga masalah pengungsi ini semakin rumit dan tak pernah ada kata sepakat.
1389683190432115932
Perbandingan luas Palestina dengan negara-negara Arab disekitarnya (pink muda wilayah untuk Israel, pink tua untuk Arab sesuai resolusi PBB 1947) foto mcwnews.net
Kenapa Israel keberatan menerima kembali semua pengungsi Palestina? 1. Karena Israel ketakutan jika mereka semua diterima akan membahayakan stabilitas negara yang baru dibentuk. Apalagi sudah terjadi perang dan Israel dikelilingi Negara Arab yang suatu saat bisa menyerang lagi. (dan itu terbukti tahun 1956, 1967 dan 1973 negara Arab kembali menyerang Israel). 2. Akibat perang Arab-Israel 1948, sekitar 850 ribu warga Yahudi diusir oleh Negara-negara Arab sehingga menambah berat beban Israel.
Berbeda dengan perlakuan Negara-negara Arab pada pengungsi Palestina. Para pengungsi Yahudi yang diusir negara-negara Arab dan mengungsi ke Israel, diserap dengan cara diberi kewarganegaraan Israel, tempat tinggal sementara dan pekerjaan seadanya sampai mereka mampu mandiri. Sehingga masalah pengungsi Yahudi ini lambat laun teratasi tanpa banyak disorot berbagai media massa.
Akhirnya masalah pengungsi Palestina ini semakin rumit, bertambah banyak dan menimbulkan berbagai masalah baru yang menambah parah konflik Arab dan Israel. Padahal kalau dulu bangsa Arab mau menerima resolusi PBB dan membangun negara Palestina sendiri disamping Israel, mungkin nasib bangsa Palestina tidak akan setragis ini. Hal itu terbukti dengan nasib 160 ribu Arab Palestina yang saat pecah perang 1948 tidak mau mengungsi dan tetap tinggal di Palestina.
Apakah Israel memusnahkan warga Arab Palestina yang bertahan itu? Tidak! Mereka hidup nyaman dan beranak pinak di Israel. Menurut data sensus Israel hingga tahun 2013, ada 1.658.000 bangsa Arab Palestina yang jadi warga Negara Israel. Mereka ternyata bisa damai dan hidup berdampingan dengan warga Yahudi. (baca > Arab citizens of Israel ). Jika ingin melihat video penjelasan tentang Pengungsi Palestina oleh Danny Ayalon (Menlu Israel yang keluarganya dulu diusir dari Algeria dan mengungsi ke Israel), silahkan klik link ini > Palestinian Refugees

Benarkah Israel Menjajah Palestina?


1366627987356796851

Membahas soal Palestina bisa menjadi hal yang sensitif mengingat banyak orang Indonesia pro Palestina. Seperti yang saya alami saat menulis tentang Palestina, saya dibully karena dianggap buta mata dan hati terhadap masalah Palestina ini (Artikelnya disini dan disini). Ada yang bertanya referensinya mana menulis hal itu? Jawabannya saya tulis lewat artikel ini biar jelas.
Saya dapat referensi dari buku yang berjudul: The Arab Israeli Dilemma, selain membaca buku itu, saya membaca banyak artikel di beberapa website yang berkaitan dengan Palestina, Israel dan zionis baik yang pro maupun kontra Israel untuk menambah referensi.
Penulis buku itu (diterbitkan 1968) Fred J. Khouri, dia mendapat gelar BA, MBA dan PHD dari Universitas Columbia dan dia adalah Professor Universitas Villanova, Pennsylvania. Selama bertahun-tahun dia mempelajari masalah Timur Tengah. Dia juga sering melakukan perjalanan ke Timur tengah dari tahun 1958 - 1975 mengunjungi para pengungsi diskusi dengan para diplomat Arab, Israel, Amerika, Inggris dll. Dia juga pernah menjadi professor tamu di Universitas Beirut dari tahun 1961-1964. Buku itu menyajikan sejarah tentang konflik Arab dan Israel secara objektif, mendetail sesuai fakta dan bukti-bukti yang dia dapat selama bertahun-tahun mempelajari Timur Tengah.
Buku itu juga sudah merubah pandangan saya terhadap Palestina yang tadinya radikal 100% pro Palestina jadi tidak terlalu radikal karena saya sadar apa yang saya yakini selama ini belum tentu sesuai dengan dengan sejarah dan fakta yang terjadi di Palestina. Misalnya Selama ini saya mengira Israel menjajah Palestina, tapi dibuku ini tidak disebutkan demikian. Fred J Khouri cenderung menyalahkan Inggris atas konflik yang terjadi di Palestina karena 3 alasan yaitu:
1.            Sejak tahun 1915 terjadi korespondensi antara Sir Henry MacMahon (diplomat Inggris yang ditempatkan di Mesir) dan Hussain bin Ali (Pemuka Hejaz/Mekah). Saat itu Hussain Bin Ali berjanji membantu Inggris mengusir kekuasaan Ottoman Turki dengan mengadakan revolusi di Arab dan sebagai imbalan Hussain bin Ali minta wilyah Arab termasuk Palestina untuk berada dibawah kekuasaannya. Terjadi kesalah pahaman dalam surat terakhir Henry mac Mahon tgl 13 Desember 1915 disebutkan wilayah mana saja yang bakal diberikan pada Hussain Bin Ali. Menurut Inggris mereka tidak menjanjikan Palestina pada Hussain bin Ali tapi sebaliknya Hussain bin Ali yakin Palestina ada dalam perjanjian tersebut.
2.            Sudah berkorespondensi dengan pemuka Arab tentang pembagian wilayah Arab, diam-diam Inggris mengadakan perjanjian dengan Perancis pada 16 Mei 1916 untuk membagi-bagi wilayah Arab mana saja yang bakal berada dibawah mandat Inggris dan Perancis. Perjanjian itu disebut Sikes - Pycott agreement. Isi perjanjian itu bertentangan dengan korespondensi yang terjadi antara Mc Mahon dan Hussain bin Ali. Semula pihak Arab tidak tahu masalah ini. Baru pada Desember 1917 perjanjian itu bocor karena pihak Rusia mempublikasikannya.
3.           Ironisnya disisi lain Inggris juga menjanjikan wilayah Palestina pada Israel karena bangsa Yahudi berjasa pada Inggris. Akhirnya pada 2 november 1917 Arthur James Balfour yang saat itu menjabat sebagai sekretaris luar negeri Inggris mendukung pemberian wilayah Palestina pada bangsa Yahudi dan terjadilah kesepakatan yang disebut deklarasi Balfour. Pada saat itu Chaim Weizman dijanjikan seluruh wilayah Palestina termasuk yang saat ini jadi Negara Jordan. Inilah yang dijanjikan Inggris pada bangsa Yahudi dalam deklarasi Balfour, lihat gambar dibawah:
13666280451389566776
Wilayah palestina yang dijanjikan Inggris pada Yahudi foto mythandfact.org
Berpegang pada deklarasi Balfour itulah bangsa Yahudi berusaha mewujudkan impian mereka sejak ribuan tahun lalu untuk punya negara sendiri. Tentu saja bangsa Arab tidak setuju dengan deklarasi Balfour itu mereka berkeras bangsa Yahudi dilarang mendirikan negara sendiri.
Belum beres masalah antara Inggris, Arab dan Yahudi, terjadi perebutan kekuasaan terhadap Hussain bin Ali oleh Ibnu Saud (yang menjadi penguasa Arab Saudi) akibatnya Hussain bin Ali terusir ke Trans Jordan dan wilayah trans Jordan yang tadinya diberikan Inggris pada bangsa Yahudi (lihat gambar deklarasi Balfour) malah diberikan pada Hussain bin Ali yang membangun negara Jordan disana, sebagai gantinya bagsa yahudi mendapat wilayah yang jauh lebih kecil. Itupun masih tidak disetujui bangsa Arab (terutama raja Jordan) yang menginginkan seluruh wilayah palestina berada dibawah kekuasaannya. Lihat gambar Palestina yg diberikan pada Israel setelah Trans Jordan diberikan pada Hussain bin Ali
13666281331603578507
Trans jordan dan Palestina foto mythandfact.org
Untuk mengatasi konflik yang terjadi di Palestina, akhirnya Inggris menyerahkan masalah Palestina ini pada PBB lalu tahun 1947 PBB membagi 2 wilayah Palestina untuk Yahudi dan Arab. Pada 14 Mei 1948 Israel mendirikan negara di wilayah Palestina itu. Tidak hanya menyoroti kesalahan Inggris, buku ini juga mengupas kesalahan bangsa Yahudi, Arab, berbagai perang yang terjadi di Palestina dan konflik lainnya sehingga pembaca bisa menilai apa yang sesungguhnya terjadi disana.
Dalam buku ini juga digambarkan sepak terjang bangsa Yahudi dalam mewujudkan impiannya itu sangat rapi, gesit dan terorganisir sehingga bangsa Arab selalu kalah beberapa langkah dalam urusan diplomasi. Selain kepiawaian diplomasi kekuatan Ekonomi bangsa Yahudi mendukung terwujudnya impian mereka punya tanah air, misalnya pada tahun 1919 -1936 bangsa Yahudi sudah menginvestasikan uang sebesar USD 400 juta terutama untuk membeli tanah-tanah di Palestina dari orang Arab. Tahun 1922 bangsa Yahudi menguasai 594,000 dunnums (1 Dunum = ¼ Acre) tahun 1939 mekar jadi 1,533,000 Dunums.
1366628199484020985
Partisi Israel dan Palestina oleh PBB 1947 foto pinterest.com
Ketika bangsa Yahudi diberbagai negara bersatu padu membangun impiannya mewujudkan 1 negara disisi lain bangsa Arab sibuk berebut wilayah dan kekuasaan, Arab sudah terpecah-pecah akibatnya ketika negara-negara Arab menyerang Israel yang baru berdiri 1 hari (israel diserang 15 Mei 1948), Israel mampu mengalahkan mereka dalam perang yang berlangsung sekitar 9 bulan.  Kekalahan koalisi negara Arab itu memicu terjadi pengungsi Palestina yang jumlahnya sekitar 500 - 750ribu tapi masalah itu tidak beres hingga saat ini malah pengungsi itu jadi berkembang biak dan saat ini diperkirakan ada 5 juta orang pengungsi.
Disisi lain akibat perang itu, sekita5 850 ribu warga Yahudi dari berbagai wilayah Arab diusir sehingga tercipta gelombang pengungsi Yahudi ke wilayah Palestina kenapa masalah pengungsi Yahudi ini bisa terselesaikan dengan cepat sementara para pengungsi Palestina terkatung-katung? Karena Israel menerima para pengungsi itu dan menyediakan berbagai fasilitas di Israel. Sementara ratusan ribu pengungsi Palestina ditolak oleh negara-negara Arab disekitarnya hanya sedikit sekali yang diterima padahal wilayah negara-negara Arab itu sangat besar akibatnya mereka beranak pinak di camp-camp pengungsian dan memicu konflik lain yang semakin memanas antara Israel dan Arab.
Dampak dari perang itu juga wilayah Israel jadi membesar 60% dari yang diberikan oleh PBB pada tahun 1947. Sebagian besar karena ditinggalkan para pengungsi Arab. Ketika perang usai Israel didesak PBB untuk menerima kembali para pengungsi itu tapi Israel menolak alasannya karena mereka juga menghadapi masalah para pengungsi Yahudi yang diusir oleh bangsa Arab.
Banyak yang dibahas dibuku itu tidak mungkin dibahas satu persatu ditulisan , karena terlalu panjang. . Tidak ada salahnya kita membaca dari berbagai sumber untuk menambah wawasan

sumber ; http://media.kompasiana.com/buku/2013/04/22/benarkah-israel-mencaplok-palestina