Jumat, 06 Juni 2014

Ketika Anjing Berebut Tulang

 Suatu ketika seorang guru berjalan bersama murid-muridnya. Di tengah gurun yang terik mereka melihat sekawanan anjing bermain-main. Mereka tampak akrab. “Lihatlah anjing-anjing itu.” Kata sang guru, “Mereka tampak akrab ya. Kenapa?” Dia bertanya kepada murid-muridnya. Mereka pun diam tak mengerti jawabannya.
“Baiklah, tunggulah nanti kalian akan mengetahui sendiri.” Kata sang guru sambil melanjutkan perjalan. Para murid pun heran, kenapa meneruskan perjalaan padahal mereka belum tahu jawabannya. Dari mana mereka akan mendapatkan jawaban tersebut, mereka bingung. Tak habis  pikir panjang, mereka mengikuti sang guru meneruskan perjalanan.
Singkat cerita, mereka pun kembali lagi. Ternyata sang guru tak memilih jalan lain, mereka melewati jalan mereka lalui waktu berangkat tadi. Alangkah terkejutnya mereka, mereka melihat sekawanan anjing lagi. Kini mereka melihat anjing-anging itu saling berkelahi satu sama lain. “Apa yang kalian lihat?” Tanya sang guru membuka percakapan sambil berjalan.
“Guru, anjing-anjing itu berkelahi! Apakah yang kita lakukan?” kata seorang muridnya. Sang guru menjawab dengan tenang singkat dan tenang, “Mengambil pelajaran.”
“Mengambil pelajaran?” tukas murid tadi keheranan.
“Benar. Bukankah kita sekarang sedang belajar. Belajar dari kejadian itu lebih mengena daripada belajar dari mulut seseorang.” Kata sang guru. “Kalian perhatikan anjing-anjing itu tadi tampak akrab dan bersahabat, tapi kini mereka berkelahi. Mengapa? Karena tadi tidak ada sesuatu yang diperebutkan. Tidak ada makanan atau tulang. Tapi sekarang ada tulang yang membuat mereka berkelahi memperebutkannya. Kita pun tak jauh dari mereka.”
“Kita seperti mereka?” Tanya murid tadi.
“Benar! Renungkanlah, ketika di hadapan manusia ada makanan yang bisa diperebutkannya maka mereka berebut agar mendapatkannya, bahkan kalau bisa, ini yang lebih ngeri lagi, inginnya makanan itu dia caplok sendiri tanpa memperhatikan orang lain. Juga ketika ada jabatan dan kedudukan, banyak orang yang memperebutkannya dengan cara apapun. Bahkan dengan mengobral janji gombal pun mereka berani lakukan.”
“Tak hanya orang di zaman kita saja. Sungguh, di zaman generasi terbaik pun pernah terjadi. Kalian ingat ketika terjadi perang Uhud? Bukankah ketika itu muslimin sempat terkecoh, bahkan berebut ghanimah yang sudah di depan mata. Pasukan pemanah yang ditugaskan Rasulullah agar tetap di atas gunung dengan kondisi dan apapun yang terjadi itu ternyta turun untuk berebut ghanimah!”
“Akhirnya apa yang terjadi?” Tanya sang guru.
“Diserang dari belakang hingga kocar-kacir. Kemenangan yang sudah di depan mata jadi hilang sekelebat mata! Itulah yang terjadi.” Jawab sang guru sendiri. “Beda waktu mereka di perang Badr, jumlah mereka yang sedikit itu malah membuat mereka bersatu dan akrab dan tak ada rasa ingin mengalahkan sesama. Akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang gemilang. Subhanallah!”
“Inilah pelajaran yang kita dapat dari anjing-anjing yang berebut tulang sampai berkelahi itu. Mungkin kalian anggap anjing-aning tadi remeh, tapi kita dapat mengambil pelajaran dari mereka” Sang guru menutup perkataannya.

Tidak ada komentar: